Pada galibnya suatu zaman dalam
sejarah kebudayaan sesuatu bangsa dinamakan Klasik apabila mempunyai dua ciri:
Masyarakat
manusia dalam zaman itu telah menghasilkan tonggak-tonggak peradaban pertama
yang akan menjadi dasar perkembangan peradaban selanjutnya di masa yang lebih
kemudian, misalnya (mulai digunakan tulisan, sistem kalender, sistem kerajaan, konsep
kepahlawanan, mitologi dewa-dewa, dan lainnya lagi).
Banyak
kaidah, aturan, konsep atau norma budaya yang berkembang dalam zaman tersebut
terus saja digunakan hingga masa sekarang, jadi di zaman sekarang seringkali
masih mengacu kaidah lama yang pernah berkembang sebelumnya di zaman awal
kegemilangan peradaban bangsa tersebut.
Bagi
bangsa Indonesia, zaman Klasik yang sesuai dengan kedua syarat tersebut
adalah masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Nusantara, oleh karena itu masa
Hindu-Buddha kemudian dinamakan zaman Klasik Indonesia.
Berdasarkan
berbagai tinggalan arkeologisnya, zaman klasik dibagi menjadi dua
periode, yaitu (a) zaman Klasik Tua yang berkembang antara abad ke-8—10 M, dan
(b) zaman Klasik Muda berkembang antara abad ke-11—15 M. Kedua zaman itu
berkembang di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Sumatera dan Bali, namun
banyak bukti arkeologi dalam zaman Klasik Tua didapatkan di wilayah Jawa bagian
tengah, oleh karena itu terdapat kepustakaan yang menyatakan agak keliru dengan
sebutan “Zaman Jawa Tengah”. Adapun untuk zaman Klasik Muda disebut juga secara
keliru dengan “Zaman Jawa Timur”, berhubung banyaknya temuan arkeologi dari
abad ke-11—15 (sebenarnya baru mulai banyak sejak abad ke-13) yang terdapat di
wilayah Jawa bagian timur. Justru pembagian zaman Klasik yang didasarkan kepada
kronologi tersebut untuk memperluas cakupan kajian, jadi tidak melulu bicara
tentang tinggalan di Jawa bagian tengah atau timur belaka (Munandar 1995: 108).
Masa
sejarah di Indonesia dimulai setelah ditemukannya bukti prasasti-prasasti awal
(bertarikh sekitar abad ke-4 M) ditemukan di wilayah Kutai, Kalimantan Timur
yang menyebut nama raja Mulawarmman dan Jawa bagian barat yang menyebutkan
Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya Purnnawarmman.Prasasti-prasasti itu
menggunakan aksara Pallava dengan bahasa Sansekerta (Suleiman, 1974: 14—15);
sedangkan nafas keagamaan yang terkandung dalam prasasti-prasasti
tersebut bercorak Veda kuno, masih belum memuja Trimurti. Dalam masa sejarah
itulah pengaruh kebudayaan India mulai datang dan berkembang secara terbatas di
beberapa tempat di Nusantara.
Dalam
masa selanjutnya pengaruh kebudayaan India awal yang menularkan ajaran
Veda-Brahmana tersebut agaknya tidak diminati lagi oleh masyarakat.
Dengan menghilangnya kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat tidak ada kerajaan
lainnya yang meneruskan ritual Veda Kuno yang didominasi oleh kaum Brahmana.
Alih-alih kerajaan yang muncul kemudian di wilayah Jawa bagian tengah dalam
abad ke-8 M bernafaskan Hindu Trimurti. Kerajaan itu adalah Mataram Kuno yang
mengeluarkan Prasasti Canggal dalam tahun 732 M, dalam prasasti itu dinyatakan
nama raja yang menitahkan penerbitan prasasti, yaitu Sanjaya. Nafas keagamaan
yang cukup kentara dalam prasasti adalah Hindu-saiva, karena bait-baitnya banyak
memuliakan Siva Mahadeva (Poerbatjaraka 1952: 53—55).
Bersamaan
dengan masuknya pengaruh Hindu-saiwa, dalam masa yang hampir bersamaan datang
pula pengaruh agama Buddha dari aliran Mahasanghika (Mahayana) ke tengah-tengah
masyarakat Jawa Kuno. Dengan demikian di Jawa bagian tengah antara abad ke-8—10
M berkembang 2 agama besar, yaitu Hindu-saiwa dan Buddha Mahayana yang beraasal
dari Tanah India. Dalam perkembangannya itu banyak dihasilkan berbagai bentuk
kesenian, seni yang masih bertahan hingga sekarang adalah bukti-bukti seni rupa
yang berupa arca dan relief serta dan kemajuan karya arsitektur bangunan suci.
Demikianlah risalah singkat ini memperbincangkan perihal zaman Klasik Tua yang
berkembang di wilayah Jawa bagian tengah, bukan di wilayah lainnya di
Indonesia. Bukti arkeologis yang akan dijadikan data, adalah penggambaran
relief dan arca-arca dewa, baik yang dikembangkan dalam lingkup kebudayaan
India, dan juga arca dan relief yang dihasilkan oleh kebudayaan Klasik Tua di
masa Jawa kuno di Jawa tengah.
Jawa adalah tempat yang paling banyak terdapat candi,
disusul oleh Sumatera. Ini menandakan bahwa perkembangan agama dan kebudayaan
Hindu-Buddha berlangsung lebih pesat di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa
Timur sebagai pusat-pusat pemerintahan pada masanya. Berdasarkan arsitektur dan
tempat dibangunnya, candi-candi di Indonesia dapat dibagi atas: candi yang
terletak di Jawa Tengah (bagian selatan dan utara), Jawa Timur, dan
lain-lainnya seperti di Sumatera, Bali, dan Jawa Barat.
Bentuk candi-candi di Jawa Tengah di bagian selatan berbeda
dengan yang ada di bagian utara. Namun demikian, secara umum (Soetarno, 2003)
candi-candi yang ada di kedua wilayah tersebut memiliki kesamaan, yaitu:
(1)
Bentuk bangunan tampak lebih gemuk, terbuat dari batu andesit.
(2)
Atapnya berbentuk undak-undakan dan puncaknya berbentuk stupa atau ratna.
(3)
Pada pintu dan relung terdapat hiasan bermotif makara.
(4)
Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya bercorak naturalis (dua dimensi).
(5)
Letak candi utama terletak di tengah-tengah halaman komplek candi muka candi
menghadap ke arah timur.
b.
Stupa
Stupa merupakan tempat penyimpanan abu sang Buddha dan
melambangkan perjalanan Sang Buddha menuju nirvana. Setelah wafat, jasad
Buddha dikremasi, lalu abunya disimpan dalam delapan stupa terpisah di utara
India. Pada masa kuno di India, stupa digunakan sebagai makam penyimpanan abu
bangsawan atau tokoh tertentu. Stupa kemudian dijadikan lambang Buddhisme dan
menunjukkan luas pengaruh Buddhisme di berbagai kawasan. Semasa pemerintahan Ashoka
(abad ke-2 SM) di India dibangun banyak stupa untuk menandakan Buddha
sebagai agama kerajaan. Di Asia Tenggara dan Timur, stupa juga didirikan
sebagai pengakuan terhadap Buddhisme di wilayah bersangkutan. Stupa terdiri
atas tiga bagian, yaitu andah, yanthra, dan cakra. Andah
melambangkan dunia bawah, tempat manusia yang masih dikuasai hawa nafsu, Yanthra
merupakan suatu benda untuk memusatkan pikiran saat bermeditasi, dan Cakra
melambangkan nirvana atau nirwana, tempat para dewa bersemayam.
Stupa di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri. Di Indonesia stupa sering
merupakan bagian candi atau komplek candi tertentu, seperti pada Candi Mendut,
Borobudur, Jawi, dan Candi Muara Takus.
c.
Keraton
Keraton (istana) merupakan bangunan tempat tinggal
raja-raja. Peninggalan keraton-keraton pada masa Hindu-Buddha, kini jarang ada
yang utuh. Sebagian tinggal puing-puing dan pondasi dasarnya saja, sebagian
lagi malah tak berbekas. Istana-istana pada masa Hindu-Buddha didirikan dengan
pondasi dari batu atau batu bata. Biasanya dindingnya terbuat dari kayu,
sedangkan atapnya dari daun sirap. Karena itu, kini yang tersisa hanyalah
pondasipondasinya.
Salah satu keraton peninggalan Hindu-Buddha yang sudah
berupa puing adalah Keraton Boko. Keraton ini terletak 2 km dari Candi
Prambanan. Disebut Keraton Boko karena menurut legenda di situlah letak
Kerajaan Boko, yaitu asal Roro Jonggrang sebelum dilamar oleh Bandung
Bondowoso. Para ahli mengaitkan keraton ini dengan raja-raja Mataram yang
membuat Candi Prambanan. Bangunan ini tidak dapat disebut candi karena di
sekitarnya terdapat bekas benteng dan juga kanal atau selokan.
Di sekitar utara Keraton Boko terdapat sejumlah bekas-bekas
candi yang semua telah rusak, di antaranya Candi Ngaglik, Candi Watu Gudhig,
Candi Geblog, Candi Bubrah, Candi Singa, dan Candi Grimbiangan. Melihat corak
relief dan arsitekturanya, candicandi ini bercorak Siwa. Mungkin didirikan oleh
raja Mataram Dinasti Sanjaya. Istana lainnya adalah reruntuhan bekas keraton
Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Masih terlihat tempat kolam yang dulu
digunakan sebagai tempat pemandian kerabat raja (sekarang dinamai Candi Tikus)
2.
Budaya
Klasik dalam Aspek Teknologi
Teknologi
ialah penerapan sistematis dari
pengetahuan-pengetahuan ilmiyah atau pengetahuan yang teratur untuk tugas yang
praktis. Menurut Sumitro ada tiga teknologi yaitu teknologi maju. Kita harus
meningkatkan kemampuan nasional dibidang penelitian dan teknologi yang
menyangkut sumber energi dan mineral (mineral
technology), dibidang nuklir dan mengenai beberapa aspek pokok dalam bidang
teknologi angkasa luar.
1. teknologi
bersifat adaptif (menyesuaikan), yang
dapat dimanfaatkan untuk pemecahan masalah dibidang pangan, pemukiman, pemeliharaan
tana dan perkembanagan industri.
2. teknologi
protektif (perlindungan),
pengembangan teknologi yang bersifat proktektif adalah untuk memelihara,
melindungi dan mengamankan ekologi dan lingkungan hidup bagi masa depan. (Y. B.
Mangunwijaya, 1993. 4)
Di negara berkembang seperti di
Indonesia industrialisasi tidak selalu mengakibatkan berkurangnya
pengangguran. Ekonomi merupakan hasil industrialisasi,
peningkatan perdagangan internasional dan penanaman modal asing. Selain
pengangguran masalah yang belum teratasi adalah di bidang pendidikan. Di negara
berkembang sistem pendidikannya belum memadai untuk menampung jumlah penduduk
yang semakin hari semakin bertambah banyak. Sistem pendidikan mendidik orang
untuk menjauhi pekerjaan yang diperlukan di desa dan mencari kesempatan bekerja di kota dan
membangkitkan harapan yang bersifat urban
atau perkotaan (Y. B. Mangunwijaya 1993: 49-50).
Negara yang sedang berkembang menyadari
bahwa membuka daerah luar kota (countryside)
dengan cara pembangunan pedesaan (rural
develoment) dapat menyebabkan desa tergantung pada produk dari kota
metropolitan dan dari negara asing. Dengan demikian kegiatan di desa menjadi
terbengkalai yang justru kegiatan non-agraris yang dipenuhi sendiri. Akibat
teknologi masyarakat lebih bergantung pada produk dari luar.
Dengan adanya kendaraan juga sistem
sosio teknologi menimbulkan kerugian ekonomis dan sistem pemberi kehidupan dari
bumi hanyalah terbatas adanya. Banyak pertanyaan tentang hal ini diantaranya
apakah basis bahan mentah dibumi akan dapat mencukupi untuk mendukung suatu
ekonomi dunia dimana negara berkembang dapat mendapatkan kemakmuran seperti di
Eropa sekarang? (Y. B. Mangunwijaya, 1993:51).
Bagaimana negara yang sedang berkembang
kiranya dapat menyusun pola pembangunan yang dapat membuat mereka hidup dengan
taraf kepadatan penduduk tiga puluh tahun mendatang bisa mencapai dua kali dari jumlah sekarang.
Negara sedang berkembang harus menjalankan kebijaksanaan perkembangan yang
diarahkan pada pemekerjaan (employment-oriented)
dalam induatri dan pertanian harus mengembangkan teknologi menengah (intermediate technologies) yang sesuai
dengan sumber mereka.
Negara berkembang juga harus
meningkatkan kecakapan dalam bidang teknologi tinggi guna proses produksi
dibidang tertentu, namun kebutuhan “teknologi menengah” lebih ada dua alasan
yaitu:
1) Akan
merugikan masalah negara untuk mengermbangkan teknik produksi yang padat karya
2) Negara
berkembang tidak mengembangkan “teknologi menengah” mereka akan terjerat dalam
gerakan yang dapat membawa mereka untuk mengulang pola pembangunan negara
industi.
Operasi
bisnis asing dinegara berkembang terutama perusahaan multinasioan yang amat
efisien dan kuat dapat membuat
“teknologi menengah” amat sulit. Negara yang berkembang sangat sulit
untuk menyusun pola pembangunan (Y. B. Mangunwijaya, 1993: 53-54).
Pada
tingkat kebudayan negara yang kurang berkembang dapat menemukan kunci dari
semangat, motivasi dan penampilan diri yang dapat dipergunakan untk menyusun
pembangunan yang baru dan berbeda. Konsep dari pembangunan sebagai penggerakan
sistem sosial yang belakangan ini mulai berhenti untuk mengejar tujuan baru
harus lebih mengerti lagi betapa pentingnya motivasi, tujuan dan makna dalam
proses pembaruan diri nasional. Jika pembangunan hanya sebagai kerangka dalam
cita hidup yang lebih luas sebagaimana yang telah artikan dalam kebudayaan
tradisional berbagai negara berkembang, maka kecil kemungkinan untuk berkembang
dalam perubahan, penyesuaian kreatif dan pembaruan akan tahan untuk tetap
berlangsung (Y. B. Mangunwijaya,1993:55).
Jika
suatu masyarakat hendak mendapatkan suatu strategi pembangunan yang menuju
kesuatu sistem kemasyarakatan yang menggunakan teknologi yang berbeda, maka
kita harus memuatkan usaha kita dalam usaha kebudayaan tradisional untuk
membentuk kembali dirinya. Bukan saja tantangan modern melainkan untuk
menangani prencarian tujuan dan makna hidup.
Kehampuan eksistensial yang nampak menatap mereka
yang sudah sepenuhnya tertanam dalam apa yang dinamakan kebudayaan kosmopolitan
modern, demikian mungkin dapat meningkatkan proses pembuahan silang yang
diperbaharui dengan kebudayaan serta agama dunia yang tradisional.
Yang seharusnya
dicari yaitu suatu peradaban baru kebudayaan baru. Penduduk diseluruh dunia
membutuhkan kedamaian, kreatif dan kebahagiaan. Kita semua bernasib sama karena
tidak ada masa depan yang terpisah-pisah bagi negara kaya dan bagi negara
miskin. Pemecahan konkrit guna bertujuan dari kreatifitas kultural murni
manusia dan pengabdian energi mental maupun spiritual (Y. B.
Mangunwijaya,1993:56-57).
Kerajaan
hindu budha yang memulai penyebarannya selama abad 1Masehi yang di adopsi oleh
kalangan suku austronesia ciri asing
demi kemaslahatan mereka sendiri. Pemerintah pertama yang terkena pengaruh
India abad 5. Konsep baru berkembang diistana Indo-Melayu, menghasilkan
kultural yang luar biasa dalam semua wilayah artistik.
Dalam
seni arsitektur monumen yang agung telah dibangun istana lokal, kesusasteraan,
puisi, theater dan tarian yang dikembangkan. Periode klasik merupakan masa
pergolakan spiritual dan religius pusat pengkajian agama Budha di Sumatera
merupakan faktor penting dalam perkembangan dan penyebaran doktrin religius
yang baru di Asia Tenggara (Michel Paul Munos, 2009: 438).
3.
Budaya
Klasik dalam Aspek Dinamika Masyarakat
Manusia
dan kebudayaan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena pendukung
adanya budaya adalah manusia atau masyarakat. Cara meneruskan budaya yaitu
dengan bahas aatau manusia yang di karuniai kepandaian bicara. Maka
sesungguhnya pendukung kebudayaan itu bukanlah manusia melainkan masyarakat
seluruhnya. Masyarakat yang berubah sifatnya yang menimbulkan perubahan budaya.
Kalau zaman prasejarah kita ambil satu zaman maka akan ada empat zaman yaitu:
1) Zaman
prasejarah sejak adanya manusia sampai kebudayaan kira-kira abad 5 masehi.
2) Zaman
purba yaitu sejak datangnya pengaruh India sampai lenyapnya kerajaan Majapahit.
3) Zaman
madya yaitu datangnya agama dan pengaruh islam menjelang akhir zaman majapahit.
4) Zaman
baru (modern) sejak masuknya anasir Barat dan teknik modern sampai sekarang.
Kebudayan
daerah mempunyaijalan perkembangan sendiri sesuai dengan kebutuhan masyarakat
setempat. Masalah yang masyarakat hadapi dalam membina kebudayaan baru yang
benar-benar dapat dinamakan Kebudayaan Indonesia (R. Soekmono. 1973: 9-17).
Daftar Pustaka
R. Soekmono. 1973. Pengantar
Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Jakarta: Kanisius.
Y. B. Mangunwijaya.
1993. Teknologi dampak Kebudayaannya. Jakarta: Yayasan obor Indonesia.
