Srawung Seni Candi dan Seniman Muda
Bulan Suro bagi sebagian
masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah menjadikan sarana untuk introspeksi,
sehingga pada bulan itu jarang ditemukan kegiatan yang bersifat kesenangan dan
kegembiraanYang ada adalah ritual-ritual dan doa-doa yang dipanjatkan kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Namun seiring dengan berjalannya waktu kehidupan
masyarakat sudah mulai berubah. Tanpa meninggalkan tradisi leluhur yang sudah
mengakar di masyarakat, kegiatan ritual dikemas menjadi sebuah atraksi budaya.
Kabupaten Karanganyar yang
terletak di lereng Gunung Lawu memiliki banyak upacara tradisi antara lain
Mandasiya, Wahyu Kliyu, Jabaleka, Dhukutan, Mapag Surya Jawi, Pasar Kumandang,
dan sebagainya, yang kesemuanya itu dilakukan oleh warga masyarakat secara spontan
dan turun temurun.
Di samping memiliki berbagai
adat istiadat yang masih mengakar dan dilestarikan, Kabupaten Karanganyar juga
memiliki beberapa peninggalan sejarah berupa Candi.
Candi, bukan sekedar tempat
pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi pemeluknya , lebih dari itu adalah
salah satu jejak sejarah peradaban dan budaya yang di dalamnya terdapat konteks
kehidupan. Hingga sekarang Candi bisa berfungsi sebagai sumber kreatifitas dan
sumber cipta seni lingkungan hidup. Situs-situs candi tersebut merupakan
cagar budaya, umpamanya Candi Sukuh dan Candi Cetho yang berisi relief-relief
Dewaruci, Sudamala dan Garudeya, merupakan titik sambung dari jaman-jaman abad
ke 14 dan 15 menuju ke kekinian, jaman Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Relief Dewaruci yang merupakan ajaran pencerahan jati diri, cerita Sudamala
cerita tentang ruwatan Betari Durga yang menjadi cantik rupawan, serta cerita
Garudeya di mana Sang Garuda menjadi lambang Negara berupa Garuda Pancasila,
dengan filsafatnya Bhinekka Tunggal Ika.
Tidak bisa dipungkiri hal
tersebut di atas bisa menjadi acuan, semangat, inspirasi di dalam proses
mawujud nilai-nilai pusaka pustaka pujangga yang akan sangat berguna bagi
perkembangan seni budaya di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.
Terasa sangat penting peranan Srawung Seni Candi yang keenam kalinya ini bisa
dilihat banyaknya minat seniman maupun budayawan yang bersedia terlibat di
dalam usaha merefleksikan diri maupun membabar ciptaan keluhuran dari tiap-tiap
seniman dengan gaya kesenian rakyat kesenian tradisi maupun garap seni modern
dalam lahan ungkap manusia alam dan Tuhan.
Juga dirasa sangat penting kalau
kita melihat bahwa dalam kesenian rakyat maupun tradisi Indonesia masa sekarang
ini terjadi perubahan nilai dengan adanya pergesekan antara dunia tradisi (adat
istiadat) dengan perkembangan dunia global, yang membuat manusia Indonesia
gamang akan nilai-nilai tradisi mereka sendiri. Terasa sekali adanya
keterpisahan wujud dan isi yang kemudian tekanan tradisi menjadi sekedar
sentuhan pada entertainment untuk paket-paket pariwisata, tv dsb.
Dipilih kata Srawung Seni Candi
diharapkan perhelatan ini masih mempunyai rasa kebersamaan, gotong royong, bowo
roso, ngudo roso, ngobrol percakapan-percakapan antara penonton, kritikus,
maupun penyaji. Kata Seni Candi diharapkan mampu mereguk inspirasi
cerita-cerita relief, arsitektur alam dan masyarakat setempat.
Bepijak dari pentingnya
melestarikan nilai-nilai tradisi dan budaya tersebut, maka segala inspirasi
muncul guna mengenalkan seni tradisi dan budaya yang tak lekang oleh waktu bagi
perkembangan seni budaya tanah air. Salah satunya diwujudkan dalam bentuk
“Srawung Seni Candi”
Srawung Seni Candi yang sudah
dilaksanakan sejak tahun 2003 ini diharapkan sebagai sarana untuk menyatukan
keinginan para pecinta seni dan para pujangga untuk mengekplorasi dan
mengekspresikan nilai-nilai budaya dan tradisi dengan kolaborasi modern.
Sehingga Srawung Seni Candi ini diharapkan menjadikan perhelatan yang dapat
mewujudkan rasa kebersamaan, gotong royong, bowo roso, ngudo roso, ngobrol
percakapan-percakapan antara penonton, kritikus maupun penyaji. Kata Seni Candi
diharapkan mampu mereguk inspirasi cerita-cerita relief, arsitektur alam dan
masyarakat setempat.
Dalam Srawung Candi tersebut, para seniman tidak sekadar
mencari inspirasi dari cerita yang ada dalam relief Candi Sukuh. Mereka juga
mencoba memberikan ‘perlindungan’ kepada candi sehingga membentuk sebuah
simbiosis mutualiasme – hubungan dua pihak yang saling menguntungkan.
Kelompok Reog Bayu Seto dari Sukoharjo, Jawa Tengah, juga
mencoba untuk ikut melindungi candi dari kerusakan. Reog tersebut melakukan
ritual dengan mengelilingi candi. Reog, yang saat ini hanya sering digunakan
dalam kegiatan karnaval itu, dicoba untuk dikembalikan kepada fungsi aslinya
sebagai penolak bala.
Sajian dari seniman Indonesia yang dipentaskan dalam
perhelatan Srawung Candi tersebut cukup menarik perhatian masyarakat desa
sekitar candi. Maklum, rata-rata mereka menyuguhkan kesenian rakyat itu cukup
dekat dengan masyarakat, dibanding performance art yang disuguhkan
oleh belasan penyaji dari luar negeri dalam perhelatan kesenian tersebut.
Meski demikian, tidak semua penyaji dari dalam negeri
menyuguhkan kesenian rakyat. Beberapa juga menampilkan seni kontemporer,
seperti teater dan tarian. Salah satunya adalah Komunitas Seni Teku asal
Yogyakarta yang menampilkan karya berjudul Brungkat.
Menurut sutradara Ibed Surgana Yuga, mereka ingin mengakrabi
ruang sejarah, ruang mitologi, ruang sosial-budaya dan ruang fisik yang
melingkupi Candi Sukuh. “Cerita tentang Dewa Ruci dan Garudeya yang sebenarnya
tidak berkaitan, bertemu di candi ini,” ujar Ibed, yang banyak berkutat dengan
mitologi itu.
Suguhan kontemporer lainnya adalah pementasan tari Purusa
Pradana. Tari yang dibawakan oleh Agung Rahma Putra dan Kinanti Sekar Rahina
itu disuguhkan melalui gerak yang menampakkan sebuah kekompakan dan kemesraan.
Tarian tersebut bertolak dari konsep purusa pradana dalam Agama Hindu,
yang memiliki makna tentang konsep penciptaan.
Menurut Agung Rahma Putra, konsep purusa pradana
mirip dengan lingga-yoni yang berada di Candi Sukuh. Meski demikian,
tarian itu diciptakan bukan semata-mata untuk dipentaskan dalam Srawung Candi.
“Sudah pernah dipentaskan tahun lalu di Jepang,” kata Agung. Saat itu, tarian
itu meraih Juara Ketiga dalam Festifal Next Dream 21 Dance Contest Volume 9 di
Jepang.
Suguhan yang juga menarik adalah pertunjukan musik berjudul Bunyi
Bagi Alam Semesta. Pertunjukan ini menjadi satu-satunya pementasan musik
dalam perhelatan Srawung Candi. Dengan menggunakan alat musik Genggong atau Jew’s
harp, I Wayan Sadra mampu menghasilkan suara-suara yang cukup jernih.
Berbagai suara ditirukan, seperti suara burung, katak, hingga tetes air melalui
alat musik yang dimasukkan di mulut tersebut.
Musik itu tidak dipersembahkan bagi penonton. “Ini musik
untuk alam di lingkungan candi,” ujar Wayan Sadra. Pengajar Institut Seni
Indonesia Surakarta itu menilai, alam telah lama tersiksa dengan kebisingan
yang diciptakan oleh manusia. Melalui musik tersebut, dia mencoba untuk
menghibur alam.
Salah satu penampil yang tak kalah menariknya: Ketoprak
Ngampung dari Surakarta. Kesenian rakyat yang cukup populer di masyrakat
setempat itu menyuguhkan sebuah drama tradisional bertajuk Rukun Agawe
Santosa.
Sesuai namanya, Ketoprak Ngampung, pementasan itu disajikan
secara sederhana. Cerita yang dibawakan juga melekat dalam kehidupan
masyarakat, yaitu tentang pemilihan lurah. Sayang, pementasan yang mampu
mengocok perut penonton terganggu oleh hujan. Berbeda dengan ketoprak pada
umumnya yang dimainkan secara indoor, Ketoprak Ngampung selalu dipentaskan di
ruang terbuka.
Seni tradisional Jawa yang telah menjadi identitas yang
dilakoni dan dihidupi oleh orang Jawa selama bertahun-tahun itu saat ini
mengalami erosi akibat kuatnya pengaruh budaya Barat yang disebarkan
melalui tehnologi media seperti film dan televisi. Anak-anak muda
jaman sekarang lebih menyukai tari, lagu dan musik Barat ketimbang seni
tradisional. Mereka lebih memilih mempelajari seni musik Barat daripada belajar
karya seni tradisi. Karya seni Barat terkesan modern dan lebih bergengsi,
juga lebih ekspresif, spontan dan energik sehingga dirasa lebih pas dengan
gejolak jiwa muda .
Sumber:




