Sabtu, 02 April 2016



Srawung Seni Candi dan Seniman Muda


Bulan Suro bagi sebagian masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah menjadikan sarana untuk introspeksi, sehingga pada bulan itu jarang ditemukan kegiatan yang bersifat kesenangan dan kegembiraanYang ada adalah ritual-ritual dan doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun seiring dengan berjalannya waktu kehidupan masyarakat sudah mulai berubah. Tanpa meninggalkan tradisi leluhur yang sudah mengakar di masyarakat, kegiatan ritual dikemas menjadi sebuah atraksi budaya.

Kabupaten Karanganyar yang terletak di lereng Gunung Lawu memiliki banyak upacara tradisi antara lain Mandasiya, Wahyu Kliyu, Jabaleka, Dhukutan, Mapag Surya Jawi, Pasar Kumandang, dan sebagainya, yang kesemuanya itu dilakukan oleh warga masyarakat secara spontan dan turun temurun.

Di samping memiliki berbagai adat istiadat yang masih mengakar dan dilestarikan, Kabupaten Karanganyar juga memiliki beberapa peninggalan sejarah berupa Candi.

Candi, bukan sekedar tempat pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi pemeluknya , lebih dari itu adalah salah satu jejak sejarah peradaban dan budaya yang di dalamnya terdapat konteks kehidupan. Hingga sekarang Candi bisa berfungsi sebagai sumber kreatifitas dan sumber cipta seni lingkungan hidup.  Situs-situs candi tersebut merupakan cagar budaya, umpamanya Candi Sukuh dan Candi Cetho yang berisi relief-relief Dewaruci, Sudamala dan Garudeya, merupakan titik sambung dari jaman-jaman abad ke 14 dan 15 menuju ke kekinian, jaman Negara Kesatuan Republik Indonesia. Relief Dewaruci yang merupakan ajaran pencerahan jati diri, cerita Sudamala cerita tentang ruwatan Betari Durga yang menjadi cantik rupawan, serta cerita Garudeya di mana Sang Garuda menjadi lambang Negara berupa Garuda Pancasila, dengan filsafatnya Bhinekka Tunggal Ika.

Tidak bisa dipungkiri hal tersebut di atas bisa menjadi acuan, semangat, inspirasi di dalam proses mawujud nilai-nilai pusaka pustaka pujangga yang akan sangat berguna bagi perkembangan seni budaya di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya. Terasa sangat penting peranan Srawung Seni Candi yang keenam kalinya ini bisa dilihat banyaknya minat seniman maupun budayawan yang bersedia terlibat di dalam usaha merefleksikan diri maupun membabar ciptaan keluhuran dari tiap-tiap seniman dengan gaya kesenian rakyat kesenian tradisi maupun garap seni modern dalam lahan ungkap manusia alam dan Tuhan.

Juga dirasa sangat penting kalau kita melihat bahwa dalam kesenian rakyat maupun tradisi Indonesia masa sekarang ini terjadi perubahan nilai dengan adanya pergesekan antara dunia tradisi (adat istiadat) dengan perkembangan dunia global, yang membuat manusia Indonesia gamang akan nilai-nilai tradisi mereka sendiri. Terasa sekali adanya keterpisahan wujud dan isi yang kemudian tekanan tradisi menjadi sekedar sentuhan pada entertainment untuk paket-paket pariwisata, tv dsb.

Dipilih kata Srawung Seni Candi diharapkan perhelatan ini masih mempunyai rasa kebersamaan, gotong royong, bowo roso, ngudo roso, ngobrol percakapan-percakapan antara penonton, kritikus, maupun penyaji. Kata Seni Candi diharapkan mampu mereguk inspirasi cerita-cerita relief, arsitektur alam dan masyarakat setempat.

Bepijak dari pentingnya melestarikan nilai-nilai tradisi dan budaya tersebut, maka segala inspirasi muncul guna mengenalkan seni tradisi dan budaya yang tak lekang oleh waktu bagi perkembangan seni budaya tanah air. Salah satunya diwujudkan dalam bentuk “Srawung Seni Candi”

Srawung Seni Candi yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2003 ini diharapkan sebagai sarana untuk menyatukan keinginan para pecinta seni dan para pujangga untuk mengekplorasi dan mengekspresikan nilai-nilai budaya dan tradisi dengan kolaborasi modern. Sehingga Srawung Seni Candi ini diharapkan menjadikan perhelatan yang dapat mewujudkan rasa kebersamaan, gotong royong, bowo roso, ngudo roso, ngobrol percakapan-percakapan antara penonton, kritikus maupun penyaji. Kata Seni Candi diharapkan mampu mereguk inspirasi cerita-cerita relief, arsitektur alam dan masyarakat setempat.

Dalam Srawung Candi tersebut, para seniman tidak sekadar mencari inspirasi dari cerita yang ada dalam relief Candi Sukuh. Mereka juga mencoba memberikan ‘perlindungan’ kepada candi sehingga membentuk sebuah simbiosis mutualiasme – hubungan dua pihak yang saling menguntungkan.

Kelompok Reog Bayu Seto dari Sukoharjo, Jawa Tengah, juga mencoba untuk ikut melindungi candi dari kerusakan. Reog tersebut melakukan ritual dengan mengelilingi candi. Reog, yang saat ini hanya sering digunakan dalam kegiatan karnaval itu, dicoba untuk dikembalikan kepada fungsi aslinya sebagai penolak bala. 

Sajian dari seniman Indonesia yang dipentaskan dalam perhelatan Srawung Candi tersebut cukup menarik perhatian masyarakat desa sekitar candi. Maklum, rata-rata mereka menyuguhkan kesenian rakyat itu cukup dekat dengan masyarakat, dibanding performance art yang disuguhkan oleh belasan penyaji dari luar negeri dalam perhelatan kesenian tersebut.  

Meski demikian, tidak semua penyaji dari dalam negeri menyuguhkan kesenian rakyat. Beberapa juga menampilkan seni kontemporer, seperti teater dan tarian. Salah satunya adalah Komunitas Seni Teku asal Yogyakarta yang menampilkan karya berjudul Brungkat.

Menurut sutradara Ibed Surgana Yuga, mereka ingin mengakrabi ruang sejarah, ruang mitologi, ruang sosial-budaya dan ruang fisik yang melingkupi Candi Sukuh. “Cerita tentang Dewa Ruci dan Garudeya yang sebenarnya tidak berkaitan, bertemu di candi ini,” ujar Ibed, yang banyak berkutat dengan mitologi itu.
Suguhan kontemporer lainnya adalah pementasan tari Purusa Pradana. Tari yang dibawakan oleh Agung Rahma Putra dan Kinanti Sekar Rahina itu disuguhkan melalui gerak yang menampakkan sebuah kekompakan dan kemesraan. Tarian tersebut bertolak dari konsep purusa pradana dalam Agama Hindu, yang memiliki makna tentang konsep penciptaan. 

Menurut Agung Rahma Putra, konsep purusa pradana mirip dengan lingga-yoni yang berada di Candi Sukuh. Meski demikian, tarian itu diciptakan bukan semata-mata untuk dipentaskan dalam Srawung Candi. “Sudah pernah dipentaskan tahun lalu di Jepang,” kata Agung. Saat itu, tarian itu meraih Juara Ketiga dalam Festifal Next Dream 21 Dance Contest Volume 9 di Jepang.

Suguhan yang juga menarik adalah pertunjukan musik berjudul Bunyi Bagi Alam Semesta. Pertunjukan ini menjadi satu-satunya pementasan musik dalam perhelatan Srawung Candi. Dengan menggunakan alat musik Genggong atau Jew’s harp, I Wayan Sadra mampu menghasilkan suara-suara yang cukup jernih. Berbagai suara ditirukan, seperti suara burung, katak, hingga tetes air melalui alat musik yang dimasukkan di mulut tersebut.

Musik itu tidak dipersembahkan bagi penonton. “Ini musik untuk alam di lingkungan candi,” ujar Wayan Sadra. Pengajar Institut Seni Indonesia Surakarta itu menilai, alam telah lama tersiksa dengan kebisingan yang diciptakan oleh manusia. Melalui musik tersebut, dia mencoba untuk menghibur alam.

Salah satu penampil yang tak kalah menariknya: Ketoprak Ngampung dari Surakarta. Kesenian rakyat yang cukup populer di masyrakat setempat itu menyuguhkan sebuah drama tradisional bertajuk Rukun Agawe Santosa.

Sesuai namanya, Ketoprak Ngampung, pementasan itu disajikan secara sederhana. Cerita yang dibawakan juga melekat dalam kehidupan masyarakat, yaitu tentang pemilihan lurah. Sayang, pementasan yang mampu mengocok perut penonton terganggu oleh hujan. Berbeda dengan ketoprak pada umumnya yang dimainkan secara indoor, Ketoprak Ngampung selalu dipentaskan di ruang terbuka.
Seni tradisional Jawa yang telah menjadi identitas yang dilakoni dan dihidupi oleh orang Jawa selama bertahun-tahun itu saat ini mengalami erosi akibat kuatnya pengaruh budaya Barat yang disebarkan melalui  tehnologi media seperti film dan televisi.  Anak-anak muda jaman sekarang lebih menyukai tari, lagu dan musik Barat ketimbang seni tradisional. Mereka lebih memilih mempelajari seni musik Barat daripada belajar karya seni tradisi. Karya seni Barat terkesan  modern dan lebih bergengsi, juga lebih ekspresif, spontan dan energik sehingga dirasa lebih pas dengan gejolak jiwa muda .

Sumber:




Rabu, 23 Maret 2016

Seni Kebudayaan Jawa dan Wanita


TRADISI PINGIT

         Masa pernikahan adalah salah satu perkembangan daur hidup yang sangat mengesankan dan merupakan masa yang sangat penting untuk diperingati karena bertemunya dua insan yang berbeda jenis, kepribadian, sifat dan watak untuk dipersatukan. Maka berkembanglah tata upacara pernikahan. Misalnya tata upacara pernikahan adat Yogyakarta berkiblat atau mencontoh tata upacara Keraton Yogyakarta. Namun dalam perkembangannya di masyarakat, tata upacara pernikahan yang bersumber pada Keraton telah mengalami perubahan (variasi) menyesuaikan dengan masyarakat setempat (Suwarna, 2006:17).

Pada dasarnya, seseorang memiliki hasrat untuk menunjukkan jati dirinya. Orang Jawa pasti ada hasrat untuk melestarikan budaya nenek moyang. Misalnya budaya pengantin dalam upaya pelestarian budaya pernikahan Jawa. Seperti halnya dalam melestarikan tata cara adat istiadat dalam pernikahan jawa.
Menurut sejarah, adat istiadat tata cara pernikahan jawa itu berasal dari keraton. ‘’Tempo doeloe’’ tata cara adat kebesaran pernikahan jawa itu, hanya bisa atau boleh dilakukan di dalam tembok-tembok keraton atau orang-orang yang masih keturunan atau abdi dalem keraton, yang di Jawa kemudian dikenal sebagai priyayi. Ketika kemudian Islam masuk di keraton-keraton di Jawa, khususnya di keraton Yogya dan Solo, sejak saat itu tata cara adat pernikahan Jawa berbaur antara budaya Hindu dan Islam.
Paduan itulah yang akhirnya saat ini, ketika tata cara pernikahan adat jawa ini menjadi primadona lagi. Khususnya tata acara pernikahan adat jawa pada dasarnya ada beberapa tahap yang biasanya dilalui yaitu tahap awal, tahap persiapan, tahap puncak acara dan tahap akhir. Namun tidak semua orang yang menyelenggarakan pesta pernikahan selalu melakukan semua tahapan itu.                         Beberapa rangkaian dari tahapan itu saat ini sudah mengalami perubahan senada dengan tata nilai yang berkembang saat ini. Di zaman dahulu setiap pasangan yang ingin mencari jodoh, tahap awal mereka biasanya mengamati dan melihat lebih dulu calon pasangannya. Akan tetapi pada saat ini sudah tidak diperlukan lagi. Sebelum pernikahan anak-anak pada umumnya mereka sudah mengenal satu sama lain dan berteman sudah cukup lama. Zaman dahulu acara lamaran dimaksudkan untuk menanyakan apakah wanita tersebut sudah ada yang memiliki atau belum, kini acara lamaran hanyalah sebuah formalitas sebagai pengukuhan, bahwa wanita itu sudah ada yang memesan untuk dinikahi. Saat ini juga sangat jarang bagi kedua calon mempelai untuk menjalani upacara pingitan.             Semakin hari semakin lama zaman sudah  angat berubah dimana lakilaki dan perempuan mempunyai peluang yang sama untuk berkarir. Sebagai insan karir mereka tentu tidak mungkin berlama-lama cuti hanya untuk menjalani pingitan, atau tidak saling bertemu di antara kedua mempelai. Selain itu, sebagai calon pengantin yang menjadi ‘’pelaku utama’’ dalam ‘’drama’’ upacara pernikahan itu, mereka tidak mungkin hanya berpangku tangan dan menyerahkan semua urusan kepada kedua orang tua, panitia, ataupun organisasi pernikahan. Mereka juga ingin agar pestanya itu berjalan sukses, sehingga mereka pun harus turut aktif membantu persiapan  ang sedang dilaksanakan. Tapi bukan berarti rangkaian tata cara pernikahan tradisional yang kini marak  agi itu hanyalah sebuah tata cara formalitas saja. Hingga saat ini masih banyak orang yang tertarik menyelenggarakan tahapan-tahapan upacara ritual pesta pernikahan gaya ‘’tempo doeloe’’ secara utuhan lengkap. (Artati, 2001: 2)
Dalam artikel ini saya akan sedikit membahas tentang prosesi pingitan dari sekian banyak serangkaian tata cara adat pernikahan di jawa tengah.

Prosesi pingitan pernikahan adat jawa
Pingitan ini memiliki tujuan yang baik. Yaitu menjaga kedua mempelai dari marabahaya dengan cara “dipingit”. Dipingit disini berarti kedua calon pengantin dilarang bertemu hingga hari H pernikahan. Dan khusus calon pengantin perempuan, dilarang untuk beraktivitas keluar rumah apalagi pergi ke mall.


            Kepercayaan dari pingitan ini sendiri yaitu calon pengantin memiliki “darah manis”, sehingga rentan akan gangguan yang sifatnya tidak terlihat. Maka untuk menjaga hal tersebut, prosesi pingitan pernikahan adat jawa dilakukan. Selain itu, calon pengantin perempuan juga akan terlihat ‘manglingi’ pada saat hari H berlangsung, hal ini dikarenakan aura calon pengantin perempuan lebih terpancar.

Prosesi pingitan pernikahan adat jawa ini, bisa dilakukan dalam tempo waktu yang berbeda-beda. Jika dahulu dilakukan hingga sebulan sebelum hari H, maka saat ini calon pengantin lebih banyak memilih untuk dipingit seminggu sebelum hari H.
Yang bisa dilakukan oleh seorang calon pengantin perempuan pada masa pingitan adalah dengan melakukan berbagai cara yang seru dan menyenangkan. Salah satunya adalah dengan merawat diri. Merawat diri merupakan keharusan untuk seorang calon pengantin perempuan, agar katanya ‘wangi’ saat hari pernikahan berlangsung.
Perawatan dilakukan dengan ramuan tradisional yang diramu khusus untuk perempuan. Mulai ramuan perawatan khusus tubuh hingga minuman tradisional yang wajib diminum. Mempelai perempuan juga disarankan untuk berpuasa, tujuannya agar pada saat hari H nanti, mempelai perempuan tampil cantik sehingga membuat pangling orang yang menyaksikannya.
Masa pingitan inilah dilangsungkan acara kunjungan pengantin perempuan
dan mempelai laki-laki ke rumah orangtua mempelai laki-laki yang merupakan tata
cara kurang penting. Namun, mungkin mereka diterima dengan perhelatan yang tidak
kalah ramai ramainya dengan yang terdahulu dan mempelai itu pun harus duduk lebih
lama lagi. Tetapi mungkin juga (dan ini yang banyak terjadi) sekedar dengan makan
bersama secara adat kedua mempelai memasuki masa pingitan kedua selama sebulan di rumah mempelai laki-laki, tetapi adat ini sekarang tidak lagi dipenuhi. (Geertz, 1985: 68-71)

Sumber:
Pringgawidagda, Suwarna. 2006.  Tata Upacara dan Wicara Pengantin Gaya Yogyakarta. Yogyakarta. Kanisius
Childred Geertz. 1985. Keluarga Jawa. Jakarta: PT. Temprint.
http://www.seputarpernikahan.com/prosesi-pingitan-pernikahan-adat-jawa/

Artati Agos, Kiat Sukses Menyelenggarakan Pesta Perkawinan Adat Jawa (Jakarta:
Gramedia Pustaka, 2001), 2.

Minggu, 20 Maret 2016

Seni Masyarakat Jawa dan Toleransi

Manusia sudah dibiasakan mengukur. Untuk mengukur dibutuhkan alat ukur. Yang diukur pun macam-macam. Bisa berat, volume, kadar, panjang dan lain-lain. Sehingga kita kenal satuan ukuran kilogram, meter, liter, karat, sendok makan, sendok teh, dan masih banyak lagi.
Ukuran panjang juga bisa macam-macam. Yang paling umum kita kenal “meter”. Tapi ditempat lain ada “inci”. Bahkan dulu kita kenal “elo” dan “hasta”. Anak kecil yang bermain-main di halaman pun juga sekali-sekali mengukur. Misalnya dengan “jengkal” atau “langkah”. Masalah mulai timbul karena ukuran “jengkal” dan “langkah” tiap anak tidak sama. Yang lebih gede pasti “jengkal” dan “langkah”nya akan lebih panjang.
Semakin maju manusia, yang diukur pun semakin rumit. Dengan semakin berkembangnya Iptek, manusia sekarang mampu mengukur jarak bumi ke bulan, planet, matahari, bahkan bintang-bintang di galaksi lain. Pendek kata hampir semua yang terhampar di alam raya ini sudah bisa diukur. Sayangnya ada satu hal amat penting yang kemudian seolah-olah terabaikan, yaitu perasaan hati. Repotnya perasaan hati ini alat ukurnya tidak dijual di toko dan tidak mungkin diproduksi di pabrik manapun.

TEPA SELIRA
Sebenarnya Tuhan sudah menganugerahi kita semua dengan alat ukur batin yang canggih, yang kita kenal dengan sebutan “tepa selira”. “Tepa” adalah ukuran atau timbangan dan “selira” adalah badan. Jadi pengertian harfiah “tepa selira” adalah mengukur badan manusia dan yang digunakan sebagai alat ukur juga badan manusia sendiri. Adapun definisi operasionalnya adalah “Seandainya kita ingin melakukan sesuatu kepada sesama manusia, untuk tahu enak atau tidak enaknya, ya harus diukur (di”tepa”) dengan alat ukur satu-satunya yang ada, yaitu diri kira sendiri. Pelaksanaan operasional yang paling sederhana adalah: Kalau kita tidak suka diperlakukan seperti itu, ya jangan begitu.
Tepa selira adalah alat ukur yang amat halus, sehingga hanya dimiliki oleh orang yang punya perasaan halus. Orang yang punya rasa kasih sayang dengan sesamanya. Orang yang suka menolong dan tidak tega membuat susah orang lain.

MANUSIA YANG TIDAK TAHU UKURAN
Tepa selira bisa punya dua arti: (1) Tepa selira untuk orang lain, yaitu menerapkan perlakuan untuk orang lain sesuai ukuran diri kita, dan (2) Tepa selira untuk diri sendiri, yaitu melakukan sesuatu untuk diri kita sesuai kapasitas fisik dan mental kita.
Orang yang tidak mampu menerapkan ukuran untuk diri pribadi (2) sudah barang tentu akan memperoleh kesulitan untuk menerapkan sesuatu kepada orang lain (1). Beberapa contoh tepa selira untuk diri sendiri dapat dipirsani di bawah ini:
1.    Bekerja keras itu baik. Tetapi bekerja melampaui batas pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.
2.    Demikian pula makan, tidur dan bersenang-senang yang melampaui batas tidak akan baik bagi diri kita.
3.    Hobi itu baik. Tetapi kalau kemudian terlalu kecanduan juga menjadi tidak baik

Orang yang tidak mampu “tepa selira” untuk orang lain akan menjadi sewenang-wenang, lebih-lebih kalau ia seorang pimpinan. Oleh sebab itu Sri Mangkunegara III memberikan wasiyat: Yen parentah wong, sarat kudu nglakoni dhisik. Maksudnya supaya bisa tepa selira, tahu empan papan.

MANUSIA YANG TAHU UKURAN
Panas  badan dapat diukur dengan termometer, tetapi termometer tidak bisa digunakan untuk mengukur panasnya hati. Alat ukur panas hati adalah “tepa selira”. Alat ukur meningkatnya tekanan gas adalah manometer. Tetapi apakah alat ukur untuk meningkatnya tekanan hawa nafsu? Kembali “tepa selira” adalah jawabnya.
Orang yang memiliki rasa tepa selira, sekalipun hatinya panas dan nafsu amarahnya meningkat, pasti mampu menempatkan perasaannya, sehingga ia tidak tega berbuat kasar sekalipun ia benar.

TEPA SELIRA DAN KEMAJUAN JAMAN
Abad ke 21 sekarang ini disebud juga era perubahan, era globalisasi, era persaingan dan masih banyak lagi era era yang lain. Yang jelas manusia semakin maju, semakin berubah dan banyak semakin semakin yang lain pula. Yang semakin baik dan yang semakin buruk dua-duanya maju sama cepatnya.
Menggaris bawahi “kemajuan hal-hal buruk” dalam diri manusia, hal ini antara lain karena hilangnya “tepa selira” dalam kompetisi yang tidak sehat. Misalnya dalam mengejar keunggulan dan keluhuran. Keunggulan maupun keluhuran dimaksud hendaknya dicari dan kalau perlu dikejar dengan cara yang baik, bukan direbut dari orang lain dengan cara yang tidak betul.

Hanya orang yang sudah memiliki sifat “waspada” yang dikerata-basakan menjadi “awas” ing “pada” (“Pada” adalah tempat berhenti) yang mengerti kapan dan bagaimana ia harus bersikap dengan menggunakan alat ukur batinnya yang peka, yaitu “tepa selira”. Mudah-mudahan kemampuan mengukur batin ini masih belum tertinggal dan ditinggalkan.

Pendidikan karakter bertujuan membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti dan pembelajaran nilai-nilai hidup. Toleransi merupakan salah satu nilai-nilai hidup yang penting  bagi setiap anak untuk hidup  rukun dan harmonis  dalam kemajemukan masyarakat Indonesia.  Budaya Jawa yang mengedepankan kerukunan dan keharmonisan sosial tentu saja memiliki nilai-nilai budaya yang menunjang terwujudnya hal tersebut,  salah satu  diantaranya adalah  tepa sarira.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan masyarakat pada saat ini makin diwarnai dengan peritiwa-peristiwa yang menjauh dari kerukunan dan keharmonisan sosial. Perbedaan bukan lagi dipandang sebagai kekayaan kehidupan bersama tetapi justru pemicu perpecahan karena tidak adanya toleransi. Sesungguhnya pentingnya  pendidikan karakter yang mengajarkan nilai-nilai hidup, termasuk nilai toleransi telah menjadi satu kesadaran bagi setiap bangsa, terutama yang memiliki kemajemukan seperti Indonesia. Salah satu program yang berkembang pesat  dalam  merealisasikan upaya-upaya pendidikan karakter adalah  Program Pendidikan Nilai-nilai Hidup (Living Values Education Programme/LVEP)  yang dikembangkan oleh  Tillman  (2001). Salah satu tujuan program ini adalah    membantu individu merefleksikan  dan menerapkan  12 nilai-nilai universal dalam kehidupan, nilai-nilai tersebut adalah  kesederhanaan, toleransi, kejujuran, menghargai, damai, tanggung jawab, kebahagiaan, persatuan, kasih sayang, rendah hati, kerjasama dan kebebasan.

Prihartanti (2008) dalam penelitiannya mengenai model pembelajaran nilai toleransi menemukan  bahwa akar permasalahan yang sering terjadi pada anak usia sekolah dasar adalah rendahnya kemampuan penghargaan terhadap orang lain, rendahnya kesediaan menerima perbedaan, dan kurangnya kemampuan penyelesaian konflik secara damai. Lebih lanjut dikatakan Prihartanti bahwa melalui model pembelajaran yang telah dikembangkannya siswa diharapkan dapat menghargai diri sendiri, mengembangkan keterampilan sosial dalam memberi dan menerima penghargaan dalam berinteraksi dengan orang lain, mengenal tindakan toleran dan tidak toleran serta mampu saling menghargai dalam keragaman, serta mampu menyelesaikan konflik secara damai. Mencermati berbagai program pembelajaran di atas, pengembangan Living Values Education  yang berbasis kearifan lokal masih sangat jarang dikembangkan. Indonesia dengan segala kemajemukan kulturalnya memiliki kekayaan budaya dan nilai-nilai luhur yang dapat menjadi landasan pengembangan pendidikan karakter.  Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian Hildred Geertz (1983) pada keluarga Jawa bahwa pembentukan karakter anak Jawa menuju pada pribadi yang memiliki prinsip kerukunan dan prinsip hormat. Dalam  konteks budaya Jawa, pendidikan karakter/watak di keluarga Jawa dianggap tercapai bila anak Jawa memiliki sikap hormat dan rukun.  Salah satu nilai Budaya Jawa yang dapat dijadikan landasan menciptakan kerukunan (integrasi) bangsa adalah budaya “tepa sarira”. Menurut Bratakesawa (dalam Darminta, 1980), tepa sarira merupakan tingkatan ketiga setelah “nandhing salira” dan “ngukur salira”. Untuk mewujudkan kerukunan, tidak akan tercapai bila seseorang masih dalam tingkatan nanding sarira, karena nandhing sarira merupakan tingkatan yang paling rendah dalam pengkajian diri dimana seseorang masih mengutamakan "aku" yang berarti lebih kearah egosentrisme.  Penelitian Andayani, Yusuf dan Hardjajani (2010, 2011) telah menyusun dan mengembangkan suatu model pembelajaran nilai toleransi berbasis budaya  tepa sarira  pada anak usia sekolahndasar.


Pada awalnya,  program ini dikembangkan untuk membantu para guru menindaklajuti kebijakan kebijakan pemerintah (Kementerian Pendidikan Nasional, sekarang menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) yang menetapkan bahwa mulai 2011 pendidikan karakter harus sudah  menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pembelajaran di sekolah menuntut para pendidik mampu mengimplementasikannya. Meskipun pentingnya pendidikan karakter telah disadari penuh oleh para guru, namun pada kenyataannya tidak setiap guru dengan mudah mengintegrasikan nilai-nilai hidup yang menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter ke dalam model pembelajaran. Sehingga penuangan ide/gagasan, materi dan media pendidikan karakter acapkali menjadi pekerjaan yang dinilai sulit dirancang dan diterapkan oleh para guru. Mengacu pada Teori Sosialisasi Primer (Primary Socialization Theory) yang diungkapkan oleh Oetting and Donnermeyer (1998) bahwa  keluarga (orangtua), sekolah (guru) dan teman sebaya merupakan sumber sosialisasi bagi anak.  Tulisan ini  akan menyajikan  hasil  penerapan model pembelajaran nilai toleransi berbasis budaya tepa sarira yang disampaikan melalui integrasi dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di sekolah dasar. Dengan  harapan, dari hasil pemaparan ini maka hasil-hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih luas, baik diselenggarakan oleh guru-guru di sekolah dasar lainnya, maupun oleh para orangtua selaku salah satu sumber sosialisasi bagi anak.

Simpulan
Peningkatan sikap dan perilaku toleransi pada siswa sekolah dasar setelah mengikuti pembelajaran nilai toleransi yang berbasis  budaya tepa  sarira melalui sistem integrasi RPP di sekolah. Untuk memperoleh kemanfaatan yang lebih luas, hasil penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan cara :
(1) memperluas penerapan model pembelajaran nilai toleransi berbasis budaya tepa sarira ini dari segi waktu dan tempat;
(2) Menyelenggarakan  Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan dan Pengembangan RPP Berbasis Pendidikan Karakter secara berkesinambungan  untuk menunjang kompetensi dan profesionalitas guru dalam penyelanggaraan pendidikan karakter;
(3) melibatkan pihak orangtua (keluarga) untuk menyampaikan nilai toleransi berbasis budaya tepa sarira ini sebagai pembelajaran nilai-nilai hidup yang penting untuk membangun karakter anak secara positif dan berbudaya.

Sumber:

Tillman, D. (2001). Living values activities for children ages 8-14. (Editor : Respati, dkk). Jakarta : PT Grasindo.

Prihartanti, N. (2008). Model pembelajaran toleransi pada siswa sekolah dasar. ProceedingsTemu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Perkembangan Indonesia. Bandung : Universitas Padjajaran.

Geertz, H.(1983). Keluarga Jawa. Jakarta : Grafiti Pers.

http://iwanmuljono.blogspot.co.id/2012/09/tepa-selira-2-alat-ukur-batin-yang.html