Sabtu, 02 April 2016



Srawung Seni Candi dan Seniman Muda


Bulan Suro bagi sebagian masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah menjadikan sarana untuk introspeksi, sehingga pada bulan itu jarang ditemukan kegiatan yang bersifat kesenangan dan kegembiraanYang ada adalah ritual-ritual dan doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun seiring dengan berjalannya waktu kehidupan masyarakat sudah mulai berubah. Tanpa meninggalkan tradisi leluhur yang sudah mengakar di masyarakat, kegiatan ritual dikemas menjadi sebuah atraksi budaya.

Kabupaten Karanganyar yang terletak di lereng Gunung Lawu memiliki banyak upacara tradisi antara lain Mandasiya, Wahyu Kliyu, Jabaleka, Dhukutan, Mapag Surya Jawi, Pasar Kumandang, dan sebagainya, yang kesemuanya itu dilakukan oleh warga masyarakat secara spontan dan turun temurun.

Di samping memiliki berbagai adat istiadat yang masih mengakar dan dilestarikan, Kabupaten Karanganyar juga memiliki beberapa peninggalan sejarah berupa Candi.

Candi, bukan sekedar tempat pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi pemeluknya , lebih dari itu adalah salah satu jejak sejarah peradaban dan budaya yang di dalamnya terdapat konteks kehidupan. Hingga sekarang Candi bisa berfungsi sebagai sumber kreatifitas dan sumber cipta seni lingkungan hidup.  Situs-situs candi tersebut merupakan cagar budaya, umpamanya Candi Sukuh dan Candi Cetho yang berisi relief-relief Dewaruci, Sudamala dan Garudeya, merupakan titik sambung dari jaman-jaman abad ke 14 dan 15 menuju ke kekinian, jaman Negara Kesatuan Republik Indonesia. Relief Dewaruci yang merupakan ajaran pencerahan jati diri, cerita Sudamala cerita tentang ruwatan Betari Durga yang menjadi cantik rupawan, serta cerita Garudeya di mana Sang Garuda menjadi lambang Negara berupa Garuda Pancasila, dengan filsafatnya Bhinekka Tunggal Ika.

Tidak bisa dipungkiri hal tersebut di atas bisa menjadi acuan, semangat, inspirasi di dalam proses mawujud nilai-nilai pusaka pustaka pujangga yang akan sangat berguna bagi perkembangan seni budaya di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya. Terasa sangat penting peranan Srawung Seni Candi yang keenam kalinya ini bisa dilihat banyaknya minat seniman maupun budayawan yang bersedia terlibat di dalam usaha merefleksikan diri maupun membabar ciptaan keluhuran dari tiap-tiap seniman dengan gaya kesenian rakyat kesenian tradisi maupun garap seni modern dalam lahan ungkap manusia alam dan Tuhan.

Juga dirasa sangat penting kalau kita melihat bahwa dalam kesenian rakyat maupun tradisi Indonesia masa sekarang ini terjadi perubahan nilai dengan adanya pergesekan antara dunia tradisi (adat istiadat) dengan perkembangan dunia global, yang membuat manusia Indonesia gamang akan nilai-nilai tradisi mereka sendiri. Terasa sekali adanya keterpisahan wujud dan isi yang kemudian tekanan tradisi menjadi sekedar sentuhan pada entertainment untuk paket-paket pariwisata, tv dsb.

Dipilih kata Srawung Seni Candi diharapkan perhelatan ini masih mempunyai rasa kebersamaan, gotong royong, bowo roso, ngudo roso, ngobrol percakapan-percakapan antara penonton, kritikus, maupun penyaji. Kata Seni Candi diharapkan mampu mereguk inspirasi cerita-cerita relief, arsitektur alam dan masyarakat setempat.

Bepijak dari pentingnya melestarikan nilai-nilai tradisi dan budaya tersebut, maka segala inspirasi muncul guna mengenalkan seni tradisi dan budaya yang tak lekang oleh waktu bagi perkembangan seni budaya tanah air. Salah satunya diwujudkan dalam bentuk “Srawung Seni Candi”

Srawung Seni Candi yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2003 ini diharapkan sebagai sarana untuk menyatukan keinginan para pecinta seni dan para pujangga untuk mengekplorasi dan mengekspresikan nilai-nilai budaya dan tradisi dengan kolaborasi modern. Sehingga Srawung Seni Candi ini diharapkan menjadikan perhelatan yang dapat mewujudkan rasa kebersamaan, gotong royong, bowo roso, ngudo roso, ngobrol percakapan-percakapan antara penonton, kritikus maupun penyaji. Kata Seni Candi diharapkan mampu mereguk inspirasi cerita-cerita relief, arsitektur alam dan masyarakat setempat.

Dalam Srawung Candi tersebut, para seniman tidak sekadar mencari inspirasi dari cerita yang ada dalam relief Candi Sukuh. Mereka juga mencoba memberikan ‘perlindungan’ kepada candi sehingga membentuk sebuah simbiosis mutualiasme – hubungan dua pihak yang saling menguntungkan.

Kelompok Reog Bayu Seto dari Sukoharjo, Jawa Tengah, juga mencoba untuk ikut melindungi candi dari kerusakan. Reog tersebut melakukan ritual dengan mengelilingi candi. Reog, yang saat ini hanya sering digunakan dalam kegiatan karnaval itu, dicoba untuk dikembalikan kepada fungsi aslinya sebagai penolak bala. 

Sajian dari seniman Indonesia yang dipentaskan dalam perhelatan Srawung Candi tersebut cukup menarik perhatian masyarakat desa sekitar candi. Maklum, rata-rata mereka menyuguhkan kesenian rakyat itu cukup dekat dengan masyarakat, dibanding performance art yang disuguhkan oleh belasan penyaji dari luar negeri dalam perhelatan kesenian tersebut.  

Meski demikian, tidak semua penyaji dari dalam negeri menyuguhkan kesenian rakyat. Beberapa juga menampilkan seni kontemporer, seperti teater dan tarian. Salah satunya adalah Komunitas Seni Teku asal Yogyakarta yang menampilkan karya berjudul Brungkat.

Menurut sutradara Ibed Surgana Yuga, mereka ingin mengakrabi ruang sejarah, ruang mitologi, ruang sosial-budaya dan ruang fisik yang melingkupi Candi Sukuh. “Cerita tentang Dewa Ruci dan Garudeya yang sebenarnya tidak berkaitan, bertemu di candi ini,” ujar Ibed, yang banyak berkutat dengan mitologi itu.
Suguhan kontemporer lainnya adalah pementasan tari Purusa Pradana. Tari yang dibawakan oleh Agung Rahma Putra dan Kinanti Sekar Rahina itu disuguhkan melalui gerak yang menampakkan sebuah kekompakan dan kemesraan. Tarian tersebut bertolak dari konsep purusa pradana dalam Agama Hindu, yang memiliki makna tentang konsep penciptaan. 

Menurut Agung Rahma Putra, konsep purusa pradana mirip dengan lingga-yoni yang berada di Candi Sukuh. Meski demikian, tarian itu diciptakan bukan semata-mata untuk dipentaskan dalam Srawung Candi. “Sudah pernah dipentaskan tahun lalu di Jepang,” kata Agung. Saat itu, tarian itu meraih Juara Ketiga dalam Festifal Next Dream 21 Dance Contest Volume 9 di Jepang.

Suguhan yang juga menarik adalah pertunjukan musik berjudul Bunyi Bagi Alam Semesta. Pertunjukan ini menjadi satu-satunya pementasan musik dalam perhelatan Srawung Candi. Dengan menggunakan alat musik Genggong atau Jew’s harp, I Wayan Sadra mampu menghasilkan suara-suara yang cukup jernih. Berbagai suara ditirukan, seperti suara burung, katak, hingga tetes air melalui alat musik yang dimasukkan di mulut tersebut.

Musik itu tidak dipersembahkan bagi penonton. “Ini musik untuk alam di lingkungan candi,” ujar Wayan Sadra. Pengajar Institut Seni Indonesia Surakarta itu menilai, alam telah lama tersiksa dengan kebisingan yang diciptakan oleh manusia. Melalui musik tersebut, dia mencoba untuk menghibur alam.

Salah satu penampil yang tak kalah menariknya: Ketoprak Ngampung dari Surakarta. Kesenian rakyat yang cukup populer di masyrakat setempat itu menyuguhkan sebuah drama tradisional bertajuk Rukun Agawe Santosa.

Sesuai namanya, Ketoprak Ngampung, pementasan itu disajikan secara sederhana. Cerita yang dibawakan juga melekat dalam kehidupan masyarakat, yaitu tentang pemilihan lurah. Sayang, pementasan yang mampu mengocok perut penonton terganggu oleh hujan. Berbeda dengan ketoprak pada umumnya yang dimainkan secara indoor, Ketoprak Ngampung selalu dipentaskan di ruang terbuka.
Seni tradisional Jawa yang telah menjadi identitas yang dilakoni dan dihidupi oleh orang Jawa selama bertahun-tahun itu saat ini mengalami erosi akibat kuatnya pengaruh budaya Barat yang disebarkan melalui  tehnologi media seperti film dan televisi.  Anak-anak muda jaman sekarang lebih menyukai tari, lagu dan musik Barat ketimbang seni tradisional. Mereka lebih memilih mempelajari seni musik Barat daripada belajar karya seni tradisi. Karya seni Barat terkesan  modern dan lebih bergengsi, juga lebih ekspresif, spontan dan energik sehingga dirasa lebih pas dengan gejolak jiwa muda .

Sumber:




0 komentar:

Posting Komentar